Wawancara Kerja IT Palsu Dipakai Korea Utara Curi Jutaan Dolar Kripto
Sebuah kelompok peretas yang didukung negara Korea Utara menjebol lebih dari 30.000 komputer di sekitar 100 negara dan menguras aset kripto senilai sekitar $10,71 juta (1,7 miliar yen) lewat sesuatu yang tampak sepele: wawancara kerja di bidang IT. Modusnya kini diungkap dalam peringatan keamanan bersama yang dikeluarkan enam negara pada 18 September, termasuk kepolisian nasional Jepang dan biro investigasi federal Amerika Serikat, ditambah lembaga siber dan intelijen dari Australia serta Jerman.
Inti kasusnya satu hal sederhana: umpannya adalah lowongan kerja yang terlihat wajar, tapi senjatanya adalah sebuah file yang diminta untuk kamu jalankan. Pelaku, yang dilacak dengan nama Waterplum, berpura-pura menjadi perekrut dari perusahaan kecerdasan buatan, blockchain, atau agen perekrut teknologi. Sasarannya adalah pengembang perangkat lunak, desainer web, dan spesialis kripto yang mereka temui di platform lowongan kerja dan media sosial.
Di tengah 'wawancara teknis' atau 'tes coding' palsu, calon diminta mengunduh program yang disamarkan sebagai soal ujian atau alat untuk memperbaiki masalah video call. Di sinilah jebakannya bekerja. Begitu program itu dijalankan, ia diam-diam membuka pintu belakang ke komputer korban dan mencuri dokumen identitas serta private key dompet kripto. Private key itu ibarat kunci tunggal sebuah brankas: siapa pun yang memegangnya bisa memindahkan seluruh isi dompet, tanpa perlu kata sandi lain. Karena itulah satu file yang salah dijalankan bisa langsung berujung pada koin yang lenyap.
Antara akhir 2025 dan Juli 2026, kampanye ini disebut menjebol setidaknya 30.000 perangkat dan lebih dari 7.000 dompet kripto, lalu mengalirkan hasilnya ke dompet yang dikuasai pihak Korea Utara. Menurut otoritas, dana ini dipakai untuk mendanai program senjata negara tersebut, dan operasinya berada di bawah pengawasan langsung sebuah biro di departemen industri persenjataan partai berkuasa.
Penyelidikan juga menyoroti peran 'penadah lokal' yang membantu operator Korea Utara menembus verifikasi lokasi, sehingga mereka bisa mendapatkan pekerjaan IT alih daya di perusahaan Jepang dan Amerika seolah-olah bekerja dari dalam negeri. Untuk pertama kalinya, polisi Jepang membongkar sebuah 'ladang laptop' setempat yang memungkinkan pekerja jarak jauh itu tampak beroperasi secara lokal. Lewat skema seperti ini, para pekerja gelap disebut mengalirkan aset kripto senilai ratusan juta yen ke luar negeri.
Yang perlu dicatat, ini bukan serangan pada satu bursa atau satu koin tertentu, melainkan pada kebiasaan orang: kesediaan menjalankan kode dari orang asing yang mengaku perekrut. Lembaga keamanan mengimbau perusahaan teknologi maupun pekerja lepas berhati-hati saat wawancara daring, tidak menjalankan kode yang belum diperiksa di komputer utama, dan menggunakan lingkungan terisolasi saat membuka berkas dari sumber yang tidak dikenal. Seberapa jauh ancaman ini membesar masih akan bergantung pada apakah kampanye serupa terus berjalan dan berapa banyak jaringan penadah yang berhasil dibongkar ke depan.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
