Utah Jadi Lokasi Pengolahan Logam Tanah Jarang untuk Kurangi Ketergantungan pada China
Angkatan Darat AS dan REalloys Inc., perusahaan logam dan material tanah jarang yang berbasis di Amerika Serikat, menandatangani kesepakatan awal yang belum mengikat (non-binding term sheet) untuk proyek di Tooele Army Depot, Utah. Dokumen ini baru menggambarkan syarat komersial untuk kemungkinan sewa lahan seluas sekitar 200 acre (kurang lebih 80 hektare) di pangkalan militer tersebut. Di lokasi itu, REalloys berencana membangun fasilitas untuk mengolah dan memurnikan dysprosium dan terbium, dua jenis logam tanah jarang berat. Ide utamanya sederhana: Amerika ingin punya jalur pasokan sendiri untuk mineral yang pengolahannya selama ini hampir sepenuhnya dikuasai China.
Kenapa dua logam ini penting? Keduanya dipakai untuk membuat magnet yang tetap kuat saat suhu tinggi. Magnet seperti ini dipakai di motor listrik, sonar, radar, dan amunisi berpandu presisi. CEO REalloys, Lipi Sternheim, menggambarkan logam tanah jarang sebagai bahan yang dibutuhkan untuk menjaga negara tetap berjalan, karena hampir semua teknologi modern memakainya, dari ponsel sampai jet tempur. Mekanismenya mudah dipahami: bahan yang dipakai di mana-mana tapi hanya diolah di satu tempat membuat pemasoknya punya daya tawar besar. Dalam beberapa tahun terakhir, China pernah menahan ekspor logam tanah jarang ke AS dan negara Barat, dan membangun pengganti tidak bisa dilakukan dalam semalam. Karena itu, fasilitas kedua tidak langsung menambah pasokan, tetapi mengurangi kemampuan satu negara untuk mengatur kapan barang keluar.
Mengapa harus di pangkalan militer? Menurut Sternheim, Utah bukan lokasi yang istimewa secara strategis. Yang penting, pangkalan itu punya lahan yang dibutuhkan dan berada di bawah pengawasan militer, sehingga sebagian rantai pasok logam penting bagi industri pertahanan lebih terjamin. Lokasi ini juga bukan tambang, karena tidak ada tambang di pangkalan tersebut. Proyek dimulai dari tahap pengolahan, dan jika suatu saat dilanjutkan sampai ke magnet, akan ada tahap-tahap berikutnya. Pihak Army menyatakan proyek ini memanfaatkan kewenangan dan lahan pemerintah tanpa mempertaruhkan uang pajak.
Ada juga tenggat yang membuat topik ini mendesak bagi industri pertahanan. Mulai 1 Januari 2027, perusahaan pembuat produk pertahanan dilarang membeli logam tanah jarang dan magnet dari sumber di tahap awal rantai pasok, termasuk dari negara seperti China, Rusia, Korea Utara, dan Iran. Aturan pengadaan pertahanan (DFARS) ini hanya berlaku untuk kontraktor pertahanan. Perusahaan di industri lain yang membuat barang non-pertahanan tidak terkena larangan tersebut, sehingga dampak langsungnya terbatas pada kelompok pembeli tertentu.
Namun ini belum selesai. Langkah berikutnya adalah menyelesaikan syarat pengembangan proyek, merundingkan sewa final, serta menjalani kajian lingkungan dan perizinan sebelum kesepakatan final dibuat. Sternheim sendiri mengatakan hal ini tidak akan terjadi dalam semalam, dan ia melihat rantai pasok mandiri untuk dunia Barat baru terbentuk sekitar 2029 atau 2030. Berita ini juga tidak menyebut pergerakan harga saham atau komoditas, sehingga belum ada data pasar yang bisa dibaca dari langkah ini saja. Sinyal yang perlu diperhatikan berikutnya adalah apakah sewa final benar-benar ditandatangani, bagaimana hasil kajian lingkungan dan perizinan, serta apakah tenggat Januari 2027 mendorong lebih banyak kesepakatan serupa. Jika proses-proses ini berjalan lambat, dampaknya terhadap pasokan juga akan lambat.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
