Turis di Thailand Kini Bisa Belanja Lewat QR dengan Modal Stablecoin
Turis asing yang berkunjung ke Thailand kini punya satu cara baru untuk membayar: lewat dompet digital bernama WORPT, mereka bisa menyetor stablecoin seperti Tether (USDT) dan USDC, menukarnya menjadi baht, lalu berbelanja dengan memindai kode QR PromptPay di kasir. Layanan ini diumumkan pada Senin, 26 Oktober, oleh dua perusahaan Thailand, Waanx dan Wipay.
Intinya satu: kripto di sini tidak dipakai untuk membayar langsung ke pedagang. Ia hanya menjadi jembatan. Begitu disetor, saldo dollar digital itu diubah lebih dulu menjadi baht, dan pembelian tetap dilakukan dengan baht biasa lewat sistem pembayaran yang sudah ada. Pedagang menerima baht seperti biasa dan tidak perlu menyentuh aset kripto sama sekali.
Cara kerja seperti ini penting dipahami, karena di situlah letak masuk akalnya. Harga kripto bisa naik-turun, dan kebanyakan pedagang tidak ingin ikut menanggung gejolak itu atau harus belajar hal baru hanya untuk menerima pembayaran. Dengan menukar lebih dulu ke baht, risiko nilai tukar ditanggung di tahap konversi, bukan di meja kasir. Bagi pembeli, stablecoin cuma menjadi bentuk uang yang dibawa masuk; di titik belanja, semuanya sudah berupa mata uang lokal.
Langkah ini juga menandai pergeseran cara pandang. Seperti dikatakan Janeboon Roonnaphaya, salah satu pendiri WORPT, selama ini kripto sebagian besar dilihat sebagai aset untuk disimpan dan diperdagangkan. Ide di balik WORPT adalah mencoba membuatnya berguna untuk hal sehari-hari seperti belanja.
Yang perlu dicatat, ini belum menjadi layanan yang sepenuhnya berjalan bebas. Otoritas pasar modal Thailand memberi izin Waanx untuk ikut dalam Tourist DigiPay, sebuah program uji coba terbatas yang dirancang untuk menguji konversi aset digital menjadi baht bagi belanja turis. Peserta program boleh menjalankan pengujian hingga 18 bulan sejak mendapat izin, dengan aturan main yang jelas: pengguna harus melewati verifikasi identitas, dan layanan belanja ini wajib dipisahkan dari aktivitas perdagangan atau investasi.
Ke depan, kedua perusahaan menyebut rencana meluncurkan kartu prabayar fisik Visa pada pertengahan November 2026, disusul kartu virtual pada awal 2027. Karena masih berstatus uji coba dan terikat batas waktu serta aturan ketat, seberapa jauh pemakaiannya meluas akan sangat bergantung pada bagaimana program ini berjalan dan apakah turis maupun pedagang benar-benar mengadopsinya. Hal-hal itulah yang layak diikuti untuk melihat ke mana arah layanan ini sebenarnya.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
