Saham Naik Meski Imbal Hasil Obligasi Melonjak, Sejarah Beri Dua Wajah
Harga saham belakangan terus menanjak justru di saat imbal hasil obligasi melonjak, dua hal yang biasanya bergerak berlawanan. Inti ceritanya sederhana: pasar sedang mengabaikan sebuah aturan lama, dan tidak ada yang yakin berapa lama sikap itu bisa bertahan.
Kenapa keduanya biasanya bertabrakan? Ketika imbal hasil obligasi naik, memegang obligasi jadi lebih menggiurkan karena bunganya lebih besar dan risikonya relatif kecil. Uang cenderung pindah dari saham ke obligasi. Selain itu, imbal hasil yang tinggi menandakan biaya pinjam yang lebih mahal bagi perusahaan, sehingga laba masa depan terasa lebih berat. Karena itu, saham yang tetap kuat saat imbal hasil naik terasa seperti melawan arus.
Yang membuat situasi ini sulit dibaca adalah sejarah tidak berpihak ke satu jawaban. Pernah ada masa investor panik menghadapi lonjakan imbal hasil, dan ada pula masa mereka justru menyambutnya sebagai tanda ekonomi yang sehat. Dua reaksi yang berlawanan dari kejadian yang mirip. Itulah sebabnya pelaku pasar sekarang berdebat: kali ini kenaikan imbal hasil pertanda bahaya, atau sekadar cerminan ekonomi yang sedang bergairah?
Yang perlu diperhatikan ke depan adalah apakah imbal hasil terus mendaki dan seberapa cepat, karena laju yang tertib biasanya lebih mudah dicerna pasar ketimbang lonjakan mendadak. Selama laba perusahaan dianggap masih mampu menutup naiknya biaya pinjam, saham bisa bertahan; begitu keyakinan itu goyah, ketegangan lama antara saham dan obligasi bisa muncul lagi. Arahnya belum pasti dan sangat bergantung pada data yang keluar berikutnya.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
