Saham Celsius Anjlok 50%, Tapi Pendapatannya Justru Melesat 83% | Labapro News
← Kembali ke News
Market Update

Saham Celsius Anjlok 50%, Tapi Pendapatannya Justru Melesat 83%

Harga saham Celsius Holdings (CELH) sudah turun sekitar 50% dalam setahun terakhir, sementara di saat yang sama pendapatan perusahaan minuman energi ini justru tumbuh sekitar 83% dibanding periode yang sama tahun lalu. Dua angka yang bergerak berlawanan itu adalah inti ceritanya: harga sahamnya turun, tapi bisnisnya secara penjualan malah membesar.

Kenapa keduanya bisa berlawanan arah? Harga saham tidak hanya mengikuti seberapa banyak sebuah perusahaan berjualan hari ini, tetapi juga seberapa besar keyakinan pasar terhadap masa depannya. Ketika keyakinan itu memudar — misalnya karena investor khawatir pertumbuhan yang secepat ini tidak akan bertahan — harga bisa turun meski penjualan masih naik kencang. Pertumbuhan pendapatan sekitar 83% menunjukkan permintaan minuman energi masih kuat; penurunan harga sahamnya lebih mencerminkan kekhawatiran soal masa depan ketimbang kondisi bisnis saat ini.

Untuk mengukur mahal-murahnya sebuah saham, pasar sering memakai rasio harga terhadap perkiraan laba, atau P/E. Sederhananya, angka ini menunjukkan berapa yang bersedia dibayar investor untuk setiap satu bagian laba yang diharapkan ke depan. Celsius diperdagangkan pada P/E berbasis proyeksi 15 bulan sebesar 19 kali, atau sekitar 27% lebih tinggi dari nilai tengah perusahaan sejenis. Artinya, investor tetap membayar lebih mahal untuk saham ini dibanding rata-rata pesaingnya — sebuah tanda bahwa sebagian pelaku pasar masih memasang harapan pada pertumbuhannya.

Di sinilah muncul istilah "rerating": kemungkinan pasar menilai ulang sebuah saham ke atas jika keyakinan terhadap prospeknya pulih. Sebuah rating Buy yang baru diberikan untuk CELH bertumpu pada gagasan itu — bahwa fondasi bisnisnya masih menyisakan ruang untuk dihargai lebih tinggi. Perlu dicatat, rating semacam ini adalah pandangan satu pihak, bukan jaminan arah harga.

Yang membuat gambarannya belum pasti justru terletak pada premium tadi. Membayar lebih mahal dari rata-rata sektor hanya masuk akal selama pertumbuhan tetap deras. Kalau laju pertumbuhan pendapatan mulai melambat atau permintaan minuman energi mendingin, alasan untuk mempertahankan harga premium itu ikut menipis. Sebaliknya, jika pertumbuhan bertahan kuat, celah antara harga saham yang sudah turun dan bisnis yang terus membesar bisa menjadi bahan bagi penilaian ulang. Angka pertumbuhan pada laporan-laporan berikutnya akan jadi petunjuk paling jujur ke arah mana cerita ini bergerak.

Siap ambil peluang market?

Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.

Trading Sekarang
Bagikan artikel ini

Bantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.