Saat Jembatan Kripto Diretas, Token Hasil 'Bridge' Bisa Kehilangan Nilainya | Labapro News
← Kembali ke News
Market Update

Saat Jembatan Kripto Diretas, Token Hasil 'Bridge' Bisa Kehilangan Nilainya

Peretasan terhadap sebuah jembatan (bridge) kripto bisa membuat token hasil "bungkus" di seberangnya kehilangan jaminan, lepas dari harga acuannya, lalu menyeret kerugian ke mana-mana di dunia keuangan terdesentralisasi (DeFi). Satu kejadian di balik layar, dampaknya terasa di banyak dompet sekaligus.

Untuk mengerti kenapa, kita perlu tahu cara kerja jembatan ini. Blockchain yang berbeda tidak bisa saling bicara langsung, jadi jembatan dipakai untuk memindahkan aset dari satu jaringan ke jaringan lain. Caranya: aset asli dikunci sebagai cadangan di satu sisi, lalu di sisi lain dicetak token "bungkus" sebagai wakilnya. Janjinya sederhana — setiap token bungkus yang beredar selalu ditopang satu banding satu oleh aset asli yang terkunci. Selama janji itu dipegang, token bungkus bisa ditukar balik kapan saja dengan nilai penuh.

Masalahnya muncul begitu cadangan yang terkunci itu dibobol. Peretas menguras aset asli, tetapi token bungkus di seberang tetap beredar seperti biasa. Sekarang jumlah wakil lebih banyak daripada barang yang menjaminnya — inilah kondisi "kekurangan jaminan" (undercollateralized). Token itu secara teknis masih ada, hanya saja sebagian besar sudah tidak ada penyokongnya.

Pasar bereaksi cepat. Pemegang token bungkus berebut menukar atau menjual selagi masih bisa, tetapi tidak ada cukup cadangan untuk menebus semuanya. Tekanan jual yang menumpuk menarik harga token turun di bawah aset yang seharusnya ia tiru. Itulah yang disebut depeg: nilai yang tadinya menempel di acuan tiba-tiba terlepas dan jatuh.

Kerugiannya jarang berhenti di situ. Token bungkus biasanya tidak hanya disimpan, tapi dipakai sebagai jaminan untuk meminjam, atau ditaruh di kolam likuiditas tempat orang bertukar aset. Ketika nilainya anjlok, jaminan yang menopang pinjaman ikut menyusut sehingga posisi dipaksa dilikuidasi, dan kolam likuiditas yang berisi token itu ikut keropos. Dari satu titik bobol, efeknya menjalar ke layanan lain yang sebenarnya tidak diretas, hanya karena mereka memegang token yang sama.

Yang membuat situasi seperti ini sulit ditebak arahnya adalah seberapa dalam sebuah token tertanam di ekosistem. Jika token bungkus itu jarang dipakai, guncangannya cenderung lokal. Tapi kalau ia tersebar luas sebagai jaminan dan pengisi kolam likuiditas, satu peretasan bisa memicu rentetan likuidasi yang jauh lebih besar dari nilai yang dicuri. Pemulihannya pun bergantung pada apakah tim di baliknya sanggup mengganti cadangan yang hilang — sesuatu yang tidak pernah pasti. Bagi pembaca, sinyal paling awal yang layak diperhatikan bukan berita peretasannya saja, melainkan apakah token bungkus mulai diperdagangkan di bawah harga acuannya; selisih itu adalah ukuran paling jujur dari seberapa besar kepercayaan pasar yang sudah hilang.

Siap ambil peluang market?

Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.

Trading Sekarang
Bagikan artikel ini

Bantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.