Peretasan Besar di Binance Jadi Bahan Bakar Debat Aturan Kripto di Washington
Laporan peretasan senilai sekitar 6,3 miliar dolar AS di Binance kini jadi bahan pembicaraan di tingkat tertinggi Washington. Pada 30 Oktober, Presiden Donald Trump mengatakan ia sedang menelaah insiden tersebut, dan menambahkan bahwa Binance telah berjanji mengganti kerugian pengguna yang terdampak. Di saat yang sama, Ketua Commodity Futures Trading Commission (CFTC) Michael Selig mendesak pengawasan pasar kripto yang lebih kuat.
Benang merahnya satu: sebuah peretasan besar dengan cepat berubah menjadi senjata dalam tarik-ulur soal siapa yang seharusnya mengawasi bursa kripto. Selig menyebut Binance sebagai bursa lepas pantai (offshore) yang berada di luar jangkauan regulasi federal Amerika Serikat, sehingga perlindungan bagi penggunanya lebih sedikit dibanding yang tersedia di pasar keuangan AS. Logikanya sederhana: kalau sebuah bursa beroperasi di luar wilayah hukum suatu negara, maka ketika terjadi masalah — entah dana raib diretas atau perusahaan bangkrut — pengguna tidak punya pijakan hukum yang sama kuatnya untuk menuntut ganti rugi. Itulah sebabnya insiden seperti ini langsung dipakai sebagai alasan untuk menuntut aturan yang lebih tegas.
Salah satu titik perdebatan ada pada RUU bernama CLARITY Act. Senator Republik Cynthia Lummis menyebut RUU itu bisa memberi perusahaan kripto perlindungan hukum saat mereka membekukan transaksi yang mencurigakan — misalnya menahan dana yang diduga hasil peretasan. Namun masih diperdebatkan apakah pembekuan semacam itu nantinya wajib lewat perintah pengadilan atau tidak, dan perbedaan itu bukan soal remeh: ia menentukan seberapa cepat sebuah bursa boleh menahan dana orang dan siapa yang mengawasi keputusan tersebut.
Dorongan lain datang dari Cody Carbone, CEO The Digital Chamber, yang pada 30 Oktober meminta Kongres mengesahkan aturan yang memberi CFTC wewenang atas bursa kripto, sekaligus mewajibkan pemisahan aset nasabah dari dana milik perusahaan saat terjadi kebangkrutan. Poin terakhir ini penting untuk dipahami: bila uang nasabah dicampur dengan kas perusahaan, maka ketika perusahaan ambruk, dana pengguna ikut tersedot untuk membayar utang. Memisahkannya berarti saldo nasabah tetap menjadi milik nasabah, bukan bagian dari harta yang diperebutkan kreditor.
Yang membuat gambaran ini belum jelas arahnya adalah posisi RUU itu sendiri. CLARITY Act sudah lolos di DPR (House), tetapi tersendat di Senat di tengah perdebatan mengenai kepentingan bisnis kripto Trump. Artinya, meski tekanan untuk memperketat pengawasan sedang menguat, belum ada kepastian aturan baru akan segera berlaku. Yang perlu diperhatikan ke depan adalah apakah pembahasan di Senat bergerak maju, bagaimana bentuk akhir ketentuan pembekuan dan pemisahan aset, serta sejauh mana janji Binance mengganti kerugian pengguna benar-benar terealisasi. Selama hal-hal itu belum terjawab, ketidakpastian soal arah regulasi kripto AS masih menjadi bagian dari cerita.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
