Perampokan Bersenjata Incar Pemilik Kripto: Kenapa Kekerasan Fisik Jadi Celah Baru | Labapro News
← Kembali ke News
Market Update

Perampokan Bersenjata Incar Pemilik Kripto: Kenapa Kekerasan Fisik Jadi Celah Baru

Sepasang suami istri di Solihull, sebelah tenggara Birmingham, Inggris, kehilangan ratusan ribu pound dalam bentuk mata uang kripto setelah sekelompok perampok bertopeng menerobos masuk ke rumah mereka dan mengancam akan membunuh sang istri yang tengah hamil beserta bayi dalam kandungannya. Detail peristiwa yang terjadi pada Desember itu baru diungkap belakangan oleh pasangan tersebut, yang memilih merahasiakan identitas mereka.

Sang suami, yang disebut dengan nama James, menceritakan pintu rumahnya didobrak hingga ia melihat sarung tangan dan balaclava masuk. Ketika mencoba melawan, ia dipukuli dengan palu. Para pelaku menindih istrinya di sofa dan membekap wajahnya dengan bantal. "Dia menaruh bantal di wajahnya. Dia benar-benar mencekiknya di sofa. Aku bisa mendengar dia berteriak, 'Aku tidak bisa bernapas,'" ujar James.

Yang membuat kasus ini berbeda dari perampokan rumah biasa adalah targetnya. Para pelaku tidak sekadar mengincar uang tunai atau barang berharga — mereka memburu akses ke dompet kripto. James baru menyadari tujuan sebenarnya saat pelaku meminta ponselnya, sementara pelaku keempat yang berada di lokasi lain memandu mereka lewat panggilan video. "Aku bisa mendengar orang di FaceTime berkata: 'Tunjukkan semua yang ada di ponselnya. Tunjukkan aplikasi apa saja yang dia punya,'" kenang James. Begitu sebuah dompet kripto ditemukan, ancaman meningkat: kirim uang sekarang, atau istrimu ditikam di perut dan bayinya dibunuh.

## Kenapa pemilik kripto jadi sasaran kekerasan langsung

Inilah inti persoalannya. Aset kripto pada dasarnya adalah aset "pembawa" — siapa yang menguasai kunci atau akses dompet, dialah yang menguasai dananya. Transfernya cepat, lintas negara, dan begitu dikirim nyaris mustahil ditarik kembali. Bagi penjahat, ini berarti mereka tidak perlu lagi membobol sistem dari jarak jauh; cukup memaksa pemiliknya untuk menekan tombol kirim sendiri. Begitu dana berpindah, jejak untuk mengembalikannya hampir tertutup. Dari sinilah muncul istilah "wrench attack" — serangan di mana penjahat mendatangi langsung orang yang diketahui memegang kripto dan menggunakan kekerasan fisik untuk memaksanya menyerahkan dana.

James akhirnya menyerahkan ratusan ribu pound. Ia bahkan sempat mendengar pelaku di telepon mengatur pembagian: para pelaku di lokasi hanya boleh mengambil sepuluh ribu, sisanya untuk sang dalang dari jarak jauh.

Kasus semacam ini tidak berdiri sendiri dan tidak hanya menimpa orang biasa. Sejumlah tokoh industri pernah menjadi sasaran serangan serupa. Bulan lalu, seorang musisi dari sebuah grup rock asal Meksiko bersama istrinya yang sedang hamil dilaporkan tewas dalam serangan yang bermula dari upaya merebut sebuah dompet perangkat keras yang diduga berisi bitcoin senilai 1,5 juta dolar AS.

Sebagai catatan pasar saat berita ini disusun, bitcoin berada di kisaran 84.514 dolar AS (-0,12%) dan ether di 2.666 dolar AS (-1,18%) — pergerakan yang relatif tipis. Namun pelajaran dari kasus ini tidak terletak pada angka harga. Justru ketika nilai aset digital menarik perhatian banyak orang, risiko bahwa kepemilikan itu diketahui pihak lain ikut meningkat. Seberapa jauh tren serangan fisik ini akan berkembang belum bisa dipastikan, tetapi polanya cukup jelas untuk jadi bahan kewaspadaan: kerahasiaan soal berapa dan di mana aset disimpan bukan lagi sekadar urusan privasi, melainkan bagian dari keselamatan.

Siap ambil peluang market?

Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.

Trading Sekarang
Bagikan artikel ini

Bantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.