Penyelesaian Stablecoin Visa Tembus US$20 Miliar, Masalah Baru Justru di Sisi Pendanaan
Volume penyelesaian (settlement) berbasis stablecoin di jaringan Visa menembus laju tahunan di atas US$20 miliar, naik lebih dari 15 kali lipat dibanding setahun lalu. Angka itu menarik bukan cuma karena besar, tapi karena menandai pergeseran: hambatan pertumbuhan kartu kripto pelan-pelan berpindah dari soal "apakah orang mau pakai" ke soal "apakah ada cukup modal untuk membiayai transaksinya".
Di kuartal fiskal kedua, tercatat lebih dari 160 program kartu yang terhubung stablecoin sudah aktif di berbagai negara, dan nilai pembayaran lewat program-program itu naik hampir 200% dibanding tahun sebelumnya. Stablecoin, dengan kata lain, mulai terasa kurang seperti eksperimen dan lebih seperti jalur pembayaran yang beneran dipakai.
## Kenapa kartu yang laris justru bisa kehabisan modal
Masalahnya ada di ritme uang. Setiap program kartu wajib memenuhi kewajiban penyelesaian hariannya ke jaringan sebelum pemegang kartu melunasi tagihan mereka. Ada jeda di situ, dan jeda itu harus dibiayai lebih dulu. Untuk penerbit besar, biasanya ditutup lewat fasilitas kredit gudang atau sekuritisasi. Tapi banyak program kartu stablecoin masih kecil: butuh dananya cuma beberapa juta dolar dalam sekali tarik, dan mereka menyelesaikan transaksi tujuh hari seminggu, tanpa libur akhir pekan.
Di sinilah muncul ketidakcocokan. Fasilitas kredit tradisional dirancang untuk jam kerja bank dan jumlah besar; buat program kecil yang perlu menarik lalu membayar kembali dananya setiap hari, kredit model lama sering terlalu mahal dan terlalu lambat diurus dokumennya. Akibatnya, sebagian bisnis kartu berbasis kripto disebut tertahan bukan karena kurang peminat, melainkan karena akses ke modal kerja yang cocok dengan siklus "selalu menyala" itu.
## Menaruh pembiayaan di atas kode
Untuk menambal celah tadi, Credit Coop bersama Visa membangun fasilitas kredit bergulir yang didenominasi dalam stablecoin. Sistemnya memakai kontrak pintar bernama Spigot yang mengarahkan tagihan penyelesaian dan otomatis mengurus pembayaran kembali — kira-kira menjalankan peran seperti "lockbox" milik pemberi pinjaman tradisional, tapi lewat kode. Credit Coop juga menerima berkas penyelesaian resmi dari Visa, sehingga pemberi pinjaman bisa membandingkan data jaringan dengan riwayat pembayaran yang tercatat di rantai. Seiring makin banyak pemberi pinjaman nyaman dengan struktur ini, biaya pinjam bagi program yang ikut serta disebut turun sampai 30%, dan lebih dari 9.000 pembayaran kembali sudah dieksekusi secara onchain.
Bukti paling kuat sejauh ini datang dari Rain, anggota utama (Principal Member) Visa yang memakai Credit Coop untuk mendanai penyelesaian harian sejak Agustus 2023. Di platformnya, Credit Coop menyebut telah membiayai lebih dari US$2,5 miliar volume kumulatif lewat lebih dari 3.000 peristiwa pinjam dan 9.000 pembayaran, tanpa gagal bayar. Perusahaan lain, Karta, memakai model serupa untuk membangun rekam jejak kreditnya sebelum mengamankan fasilitas kredit institusional senilai US$125 juta sebagai bagian dari paket pembiayaan US$140 juta.
Buat bank dan pemberi pinjaman, arahnya menarik: kartu berbasis stablecoin bukan sekadar memperluas pembayaran kripto, tapi juga melahirkan kelas piutang baru yang bisa dipantau dan dilayani nyaris real-time. Meski begitu, rekam "tanpa gagal bayar" adalah catatan masa lalu, bukan jaminan ke depan. Yang akan menentukan cerita selanjutnya adalah apakah para pemberi pinjaman sanggup memperbesar modal kerja secepat kartu stablecoin tumbuh. Kalau pasokan modal ikut mengejar, jalur ini bisa melebar; kalau tersendat, permintaan yang ada pun bisa tertahan. Itu yang layak dipantau, bukan angka run rate-nya semata.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
