Pengadilan Inggris Perintahkan Dua Penipu Kripto Kembalikan £851.402
Sebuah pengadilan di Inggris memerintahkan dua pria yang sudah divonis bersalah dalam kasus penipuan kripto untuk membayar total £851.402,27 melalui perintah penyitaan (confiscation order). Uang itu nantinya dikembalikan kepada para korban dari sebuah skema investasi palsu yang menjerat setidaknya 65 orang dengan total kerugian £1.541.799.
Dari jumlah tersebut, Raymondip Bedi diperintahkan membayar £603.404,28 dan Patrick Mavanga £247.997,99. Perintah itu keluar dari Southwark Crown Court, menyusul vonis atas skema yang berjalan sejak Februari 2017 hingga Juni 2019. Keduanya menjaring korban lewat panggilan telepon acak (cold call), menawarkan peluang investasi aset kripto yang ternyata fiktif melalui perusahaan bernama CCX Capital dan Astaria Group LLP.
Inti dari kabar ini bukan cuma hukumannya, tapi cara negara berusaha menarik kembali uang yang sudah telanjur raib. Perintah penyitaan ini dibuat berdasarkan Proceeds of Crime Act 2002, sebuah aturan yang memungkinkan pengadilan mengambil kembali hasil kejahatan. Cara kerjanya sederhana: setelah seseorang terbukti bersalah, pengadilan menghitung berapa keuntungan yang ia peroleh dari kejahatannya, lalu memerintahkan pembayaran sebesar itu — atau sebesar aset yang benar-benar dimiliki, mana yang lebih kecil. Itulah sebabnya angka yang harus dibayar (£851.402) lebih kecil dari total kerugian korban (£1,54 juta): kalau harta pelaku sudah tidak sebanyak uang yang mereka gelapkan, yang bisa ditarik ya hanya sebatas yang tersisa. Dari sini pula muncul pelajaran penting bagi korban penipuan di mana pun: putusan bersalah tidak otomatis berarti uang kembali utuh.
Sebelumnya, Bedi sudah divonis lima tahun empat bulan penjara pada Juli 2025, sementara Mavanga menerima hukuman enam tahun enam bulan. Keduanya kini diberi waktu tiga bulan untuk melunasi pembayaran. Jika gagal, masa tahanan bisa bertambah — hingga lima tahun untuk Bedi dan hingga dua tahun untuk Mavanga. Ancaman tambahan hukuman ini adalah cara agar perintah bayar tidak sekadar jadi angka di atas kertas.
"Bedi dan Mavanga menipu para investor dan membuat mereka merugi. Perintah ini membawa para korban selangkah lebih dekat untuk mendapatkan kembali uang mereka," kata Steve Smart, joint executive director of enforcement and market oversight di Financial Conduct Authority (FCA). Ia menambahkan, "Kami akan terus mengejar para penipu dan meminta pertanggungjawaban mereka." FCA menyebut sudah mengidentifikasi dan menghubungi para korban yang terdampak.
Bagi pembaca yang mengikuti pasar kripto, kasus ini adalah pengingat yang berguna: tawaran investasi lewat telepon tak dikenal, dengan nama perusahaan yang terdengar meyakinkan, adalah pola klasik yang berulang. Berapa banyak dana yang akhirnya benar-benar kembali ke tangan korban masih akan bergantung pada aset pelaku yang bisa ditelusuri dan disita dalam tiga bulan ke depan.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
