Pendapatan Industri Blockchain Diproyeksi Turun 30%, Tapi Mesin Pertumbuhan Baru Mulai Menyala | Labapro News
← Kembali ke News
Market Update

Pendapatan Industri Blockchain Diproyeksi Turun 30%, Tapi Mesin Pertumbuhan Baru Mulai Menyala

Pendapatan industri blockchain secara global diproyeksikan menyusut sekitar 30% tahun ini, dari kisaran US$140 miliar pada 2025 menjadi sekitar US$100 miliar pada 2026 — penurunan yang kurang lebih sejalan dengan rata-rata harga bitcoin sepanjang tahun. Di hari laporan ini beredar, bitcoin tercatat di US$77.265 (-0,04%) dan ether di US$2.240 (+1,34%).

Benang merah ceritanya sederhana: saat harga kripto turun, pendapatan industrinya ikut mengecil, tapi di balik angka yang merosot itu ada bagian yang justru tumbuh. Alasannya mekanis. Sebagian besar pendapatan blockchain datang dari biaya yang dibayar pengguna atas aktivitas di jaringan — dan nilai aktivitas itu menempel pada harga aset yang diperdagangkan. Ketika harga melemah, nilai transaksi mengecil, lalu biaya yang terkumpul ikut menyusut. Itu sebabnya grafik pendapatan dan grafik harga bitcoin bergerak mirip.

Meski totalnya turun, sektor keuangan terdesentralisasi (DeFi) tetap jadi penyumbang terbesar untuk tahun keempat berturut-turut, dengan pendapatan sekitar US$65 miliar atau kira-kira dua pertiga dari keseluruhan — naik tajam dari porsi 52% pada 2022. Di dalam kelompok ini, bursa dan bursa derivatif menyumbang bagian terbesar, disusul pendapatan dari cadangan dan imbal hasil stablecoin. Sebaliknya, pendapatan dari infrastruktur blockchain jatuh ke US$22 miliar, level terendah sejak 2020; biaya transaksi murni kini bahkan kurang dari 3% total pendapatan industri.

## Dari mana mesin pertumbuhan barunya datang

Yang menarik justru datang dari sisi yang melawan arus. Pendapatan yang terkait adopsi institusional dan penggunaan ekonomi nyata tumbuh hingga mewakili 30% dari total, dan untuk pertama kalinya pendapatan 'ekonomi' ini menyalip infrastruktur pada kuartal ketiga. Pendorong utamanya adalah tokenisasi aset dunia nyata (RWA) — saham, komoditas, hingga instrumen kredit yang 'dibungkus' menjadi aset digital sehingga bisa diperdagangkan di jaringan. Pasar prediksi juga melonjak dari hampir nol tahun lalu menuju estimasi sekitar US$4 miliar tahun ini.

Kenapa bagian ini bisa tumbuh ketika harga kripto lesu? Logikanya berbeda. Nilai aset kripto sebagian besar mencerminkan persepsi orang terhadap risiko moneter, inflasi, dan spekulasi. Sementara aktivitas RWA lebih banyak ditarik oleh kinerja dan imbal hasil aset yang mendasarinya di dunia nyata. Karena penggeraknya tidak sama, keduanya bisa bergerak sendiri-sendiri — satu turun, satu naik — selama kondisi keuangan relatif tenang. Perbandingan yang dipakai di laporan: mirip hubungan surat utang pemerintah AS dan dolar, yang bisa jalan masing-masing sampai ada guncangan besar yang memaksa keduanya bergerak searah.

Tanda konkret pergeseran ini terlihat pada perdagangan saham yang ditokenisasi: volumenya di satu jaringan ritel menembus lebih dari US$13 miliar pada kuartal ketiga, dan lebih dari 70% terjadi justru saat bursa saham AS sedang tutup. Di sinilah nilai praktisnya — aset yang biasanya hanya bisa ditransaksikan pada jam bursa kini bisa diperdagangkan hampir kapan saja. Pada kuartal yang sama, RWA menyumbang 18% dari seluruh volume perpetual, dengan saham tokenisasi mengambil porsi terbesar menggeser emas yang memimpin tahun sebelumnya.

## Yang masih bisa mengubah gambaran

Semua ini tetap proyeksi, bukan kepastian. Laporan memperkirakan pemulihan pendapatan menuju level tertinggi sebelumnya pada 2027, ditopang perdagangan ekuitas 24 jam, perluasan tokenisasi, dan rel pembayaran stablecoin — tapi itu bersandar pada asumsi aturan main yang makin jelas dan partisipasi institusi yang terus masuk. Beberapa titik masih rapuh: pasokan stablecoin terpantau mulai mandek meski volume pembayarannya memecahkan rekor, dan kredit yang ditokenisasi masih sulit dijual, dibiayai, atau dijadikan jaminan di luar investasi awal. Yang paling perlu diperhatikan ke depan adalah apakah aktivitas perdagangan RWA bisa berlanjut ke pinjam-meminjam — karena sebuah aset jadi jauh lebih berguna ketika bisa dijaminkan, bukan sekadar diperdagangkan. Dan 'keterpisahan' antara kripto dan RWA tadi hanya berlaku selama kondisi keuangan stabil; bila ada guncangan besar, keduanya bisa kembali bergerak searah.

Intinya, angka pendapatan yang turun 30% menceritakan separuh cerita. Separuh lainnya adalah pergeseran sumber pendapatan — dari aktivitas yang ikut naik-turun harga kripto, menuju penggunaan yang menempel pada aset dan kebutuhan dunia nyata. Arah akhirnya belum pasti dan sangat bergantung pada data serta regulasi yang masih berjalan.

Siap ambil peluang market?

Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.

Trading Sekarang
Bagikan artikel ini

Bantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.