Minyak Menguat, Brent Tembus $101 di Tengah Ketegangan AS-Iran
Harga minyak kembali naik, dengan Brent bergerak di atas $101 per barel setelah militer AS menghancurkan sejumlah kapal tanker minyak Iran. Kenaikan ini melanjutkan penguatan sebelumnya, dan pemicunya bermuara pada satu hal: kekhawatiran bahwa pasokan minyak dunia bisa terganggu jika konflik AS-Iran—yang kini memasuki bulan ketujuh—terus memanas.
Kenapa serangan terhadap kapal bisa mengerek harga? Sebagian besar minyak dunia diangkut lewat laut, melewati jalur pelayaran di kawasan itu. Ketika tanker menjadi sasaran, para pedagang khawatir sebagian pasokan bisa terputus atau tertunda. Karena minyak tetap dibutuhkan setiap hari, ketakutan akan kekurangan itu membuat pembeli bersedia membayar lebih mahal sekarang, sehingga harga terdorong naik—bahkan sebelum ada satu barel pun yang benar-benar hilang dari pasar.
Yang membuat pelaku pasar waspada adalah arah konflik ke depan. Analis di Goldman Sachs menilai, bila serangan terhadap pelayaran makin sering, harga minyak berisiko melonjak melewati $120 per barel. Di sisi lain, sejumlah penasihat Gedung Putih secara tertutup mengingatkan Presiden Donald Trump bahwa konflik ini bisa berlarut hingga akhir masa jabatannya—yang berarti tekanan ke harga berpotensi bertahan lebih lama, bukan sekadar lonjakan sesaat.
Meski begitu, arah harga tetap belum pasti dan sangat bergantung pada perkembangan di lapangan. Selama ketegangan dan serangan terhadap tanker berlanjut, dorongan naik cenderung bertahan; sebaliknya, tanda-tanda konflik mereda atau jalur pelayaran kembali aman bisa mengendurkan tekanan itu. Bagi pembaca, yang perlu dipantau cukup sederhana: seberapa sering kabar gangguan pasokan muncul, karena di situlah harga minyak paling cepat bereaksi.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
