Minyak Bertahan di Atas US$100, Tekanan ke The Fed Berlanjut
Harga minyak mentah yang bertahan di atas US$100 per barel menambah tekanan pada arah kebijakan bunga The Fed dan ikut mendorong naik imbal hasil surat utang pemerintah Amerika (Treasury). Ini terjadi tak lama setelah bank sentral AS memutuskan menahan suku bunga pada Oktober.
Satu hal yang perlu dipegang: semakin lama minyak bertahan mahal, semakin sulit bagi The Fed untuk mulai melonggarkan kebijakannya.
Kenapa harga minyak bisa sampai mengganggu bank sentral? Minyak adalah bahan dasar yang menyentuh hampir semua hal — biaya mengangkut barang, memproduksi, sampai harga di toko. Ketika minyak mahal dan bertahan lama, biaya itu merembet ke harga-harga lain, dan itulah yang disebut tekanan inflasi. Tugas The Fed menjaga inflasi tetap terkendali, sehingga selama ancaman dari minyak belum reda, bank sentral punya alasan untuk tetap menahan bunga di level tinggi, bukan menurunkannya.
Imbal hasil Treasury bergerak dengan logika yang sama. Imbal hasil adalah tingkat pengembalian yang diminta pasar saat meminjamkan uang ke pemerintah AS. Kalau pelaku pasar menduga inflasi akan bertahan dan bunga sulit turun, mereka menuntut imbal hasil yang lebih tinggi — itulah kenaikan yang terlihat sekarang.
Arahnya belum pasti dan sangat bergantung pada perkembangan harga minyak itu sendiri. Kalau minyak akhirnya turun kembali ke bawah US$100, tekanan ini bisa mereda dan ruang bagi The Fed melonggar lebih terbuka. Selama harga masih bertengger tinggi, tekanan ke bunga dan imbal hasil kemungkinan berlanjut. Yang patut diperhatikan pembaca adalah apakah minyak mulai menjauh dari US$100 atau justru makin betah di atasnya.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
