Microsoft hingga McDonald's Tolak Sahamnya Ditokenisasi di Platform OKX-ICE
Microsoft, Alphabet, Goldman Sachs, dan McDonald's termasuk sejumlah nama besar yang kini resmi menolak sahamnya diperdagangkan di platform tokenisasi saham yang diusulkan kongsi OKX-ICE. Keberatan itu tercatat dalam pemberitahuan publik yang diperbarui 19 Oktober 2026, dan muncul tepat saat kongsi tersebut berambisi membawa saham tradisional ke jaringan blockchain untuk diperdagangkan nonstop.
Satu hal yang menonjol dari kabar ini: membangun mesin perdagangan 24 jam ternyata jauh lebih mudah daripada meyakinkan perusahaan-perusahaan besar untuk ikut serta. Teknologinya mungkin siap, tapi izin dari pemilik saham tidak otomatis mengikuti.
Untuk memahami kenapa penolakan ini penting, perlu dilihat cara kerja rencana tersebut. Ini bukan taruhan sintetis atas harga saham, melainkan token digital yang ditopang oleh saham asli yang disimpan lewat broker-dealer terdaftar, lengkap dengan hak dividen dan hak suara. Jadi di belakang setiap token ada lembar saham sungguhan. Masalahnya, kerangka pengecualian sementara dari regulator pasar modal AS menyertakan satu mekanisme khusus: perusahaan penerbit saham berhak mengajukan keberatan atas tokenisasi sahamnya oleh pihak ketiga. Itulah pintu yang kini digunakan belasan perusahaan. Artinya, meski sekuritas yang mendasarinya nyata, persetujuan perusahaan tetap menjadi penentu — bukan sekadar kemampuan teknologi.
Selain empat nama di atas, filing itu juga mencantumkan Qualcomm, Caterpillar, dan Western Digital. Sebelumnya tercatat pula Broadcom, Verizon, UnitedHealth Group, Coreweave, Rocket Lab, Cerebras Systems, Applovin, Applied Digital, dan Applied Optoelectronics, sehingga total ada 16 perusahaan yang keberatan.
Di sisi lain, Andrew Cuomo — mantan Gubernur New York yang duduk di dewan OKX dan menjadi co-chair usaha patungan dengan Intercontinental Exchange, induk dari Bursa Efek New York — justru membela inisiatif ini dalam konferensi pers 20 Oktober. Ia menyebut kerangka regulasi sementara itu sebagai eksperimen yang membiarkan perusahaan memilih sendiri apakah mau ikut. "Akan ada perusahaan lain yang bilang: saya ingin jadi yang pertama terjun," katanya, sembari mempertanyakan mengapa perdagangan saham harus dibatasi jam pasar tradisional. "Ini dunia yang hidup 24-7," ujarnya.
Yang penting dicatat, filing tersebut tidak menjelaskan alasan masing-masing perusahaan menolak, dan tidak pula membuktikan bahwa mereka menentang sekuritas berbasis blockchain secara umum. Bisa jadi sebagian hanya memilih menunggu dan mengamati sebelum ikut. Rencananya, platform ini beroperasi nonstop memakai kolam likuiditas berizin, dengan token saham dipertukarkan terhadap stablecoin seperti USDC, USDT, dan USDG. Ke depan, yang perlu diperhatikan pembaca adalah apakah ada perusahaan yang justru menyatakan bersedia menjadi pelopor, atau daftar penolak malah bertambah panjang — dua arah itu sama-sama mungkin dan akan banyak menentukan nasib eksperimen tokenisasi Wall Street ini.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
