Mata Uang Asia Melemah Kompak Saat Imbal Hasil Obligasi AS Melonjak
Sejumlah mata uang Asia melemah hampir serentak terhadap dolar AS, menyusul lonjakan tajam imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika dalam semalam. Satu benang merahnya sederhana: uang sedang mengalir ke arah dolar, dan mata uang di kawasan Asia berada di sisi yang berlawanan dari aliran itu.
Mekanismenya begini. Imbal hasil obligasi adalah bunga yang didapat investor kalau menaruh uang di surat utang pemerintah AS. Ketika imbal hasil itu naik, menyimpan dana dalam bentuk dolar jadi terasa lebih menarik dibanding menaruhnya di aset negara lain. Untuk bisa membeli aset berbunga dolar tadi, investor perlu membeli dolar lebih dulu. Permintaan dolar yang naik itulah yang membuat dolar menguat, dan otomatis membuat mata uang lain — termasuk banyak mata uang Asia — bergerak melemah terhadapnya. Jadi yang bergerak duluan bukan mata uang Asia-nya, melainkan daya tarik dolar yang meningkat karena bunganya naik.
Karena pemicunya adalah pergerakan imbal hasil AS, arah selanjutnya sangat bergantung pada apakah kenaikan itu berlanjut atau berhenti. Kalau imbal hasil obligasi AS mereda atau mendatar, salah satu pendorong utama penguatan dolar ikut kendur, dan tekanan ke mata uang Asia bisa berkurang. Sebaliknya, selama imbal hasil masih menanjak, tarikan ke arah dolar cenderung bertahan. Ini memang pola yang bergerak dari hari ke hari, bukan sesuatu yang sudah pasti, jadi rilis data dan pergerakan pasar obligasi AS berikutnya layak diperhatikan sebagai penanda ke mana angin bertiup.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
