Israel Siapkan Rencana Cadangan Berbasis Blockchain Antisipasi Sanksi Perbankan
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan penyusunan rencana darurat yang melibatkan teknologi blockchain, sebagai persiapan jika sanksi perbankan internasional sampai mengganggu kemampuan negara itu memindahkan uang ke luar negeri. Intinya satu: ini langkah berjaga-jaga, menyiapkan jalur cadangan sebelum jalur utama benar-benar terganggu.
Untuk mengerti kenapa ini penting, bayangkan bagaimana uang berpindah antarnegara. Hampir semua transfer lintas batas harus lewat jaringan bank yang saling terhubung. Satu bank menitipkan perintah ke bank lain, lalu ke bank berikutnya, sampai uang sampai ke tujuan. Sanksi perbankan bekerja dengan memutus sambungan itu: bank-bank di luar diminta berhenti melayani, sehingga perintah transfer tidak lagi punya jalan untuk lewat. Begitu jalur ini tertutup, membayar atau menerima uang dari luar negeri jadi sulit, meski uangnya sendiri ada.
Di sinilah blockchain masuk sebagai alternatif. Teknologi ini memungkinkan nilai berpindah langsung antarpihak lewat catatan bersama yang tersebar di banyak komputer, tanpa harus menumpang pada rantai bank perantara tadi. Karena tidak bergantung pada satu lembaga yang bisa diperintah berhenti, jalur semacam ini lebih sulit diputus dari satu titik. Itulah yang membuatnya menarik sebagai rencana cadangan.
Perlu dicatat bahwa yang disampaikan baru sebatas perintah untuk menyusun rencana, bukan sistem yang sudah berjalan. Seberapa jauh ini berkembang akan bergantung pada apakah ancaman sanksi benar-benar muncul dan seperti apa bentuk rencananya nanti. Untuk sekarang, kabar ini lebih bernilai sebagai sinyal arah berpikir sebuah negara soal ketahanan keuangannya, bukan sebagai peristiwa yang langsung mengubah gambaran pasar.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
