Investor Kaya Makin Lapar Kripto, Penasihat Mereka Masih Menahan Langkah | Labapro News
← Kembali ke News
Market Update

Investor Kaya Makin Lapar Kripto, Penasihat Mereka Masih Menahan Langkah

Para investor kaya di sejumlah ekonomi besar ingin menaruh lebih banyak uang di kripto, sementara penasihat keuangan mereka justru menahan langkah — dan jaraknya melebar cepat. Sebuah survei terhadap 2.230 investor yang masing-masing memegang setidaknya $500.000 aset yang bisa diinvestasikan, tersebar di Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Swedia, dan Swiss, memperlihatkan selera terhadap aset digital yang jauh lebih besar daripada rasa nyaman para penasihatnya.

Satu benang merah menyederhanakan semuanya: uang besar ingin masuk lebih cepat daripada para penjaga gerbangnya siap mengizinkan.

Kepemilikan kripto di kelompok ini berkisar dari 54% di Swedia sampai sekitar 70% di AS, Inggris, Jerman, dan Swiss. Yang lebih mencolok, lebih dari 85% pemilik kripto yang sudah ada mengaku berniat menambah porsinya. Di saat bersamaan, kira-kira empat dari sepuluh responden yang memakai jasa penasihat di Swiss, Prancis, AS, dan Jerman menilai penasihat mereka terlalu berhati-hati pada aset digital.

Kehati-hatian itu bisa dimengerti: penasihat ikut bertanggung jawab kalau portofolio kliennya babak belur, dan kripto bisa bergerak sangat tajam dalam waktu singkat. Tapi kehati-hatian yang terlalu jauh dari keinginan klien juga punya harga — survei ini menyoroti risiko penasihat kehilangan nasabah ke firma yang lebih longgar.

Bahkan soal seberapa besar porsi kripto yang 'wajar' pun belum ada kata sepakat. Ric Edelman, pendiri Digital Assets Council of Financial Professionals, mempertanyakan temuan rata-rata alokasi 10% dalam survei; menurut pengamatannya di lapangan, angkanya lebih sering berkisar 2% sampai 5%. Namun ia bukan ingin porsi dikecilkan — ia justru menilai investor idealnya berada di kisaran 10% hingga 40%, disesuaikan dengan toleransi risiko masing-masing. Perdebatannya soal angka, bukan soal arah.

## Dinding antara kripto dan keuangan arus utama menipis

Tekanan yang sama datang dari sisi lain. Perusahaan yang dulu murni bermain di aset digital kini makin rajin mengetuk pintu regulator dan menggandeng lembaga keuangan lama. OKX baru saja menutup pendanaan baru pada valuasi $25 miliar. Sebelumnya, pada Maret, bursa ini sudah menarik investasi $200 juta yang dipimpin Intercontinental Exchange; perpanjangan terbaru membawa masuk SC Ventures milik Standard Chartered, Qube Research & Technologies, Ripple, dan penerbit stablecoin Circle. Berapa dana yang berpindah tangan kali ini tidak diungkap.

Lebih dari sekadar menghimpun dana, OKX bergerak langsung ke pasar keuangan tradisional. Lewat usaha patungan dengan Intercontinental Exchange, mereka mengajukan izin ke Securities and Exchange Commission (SEC) AS untuk meluncurkan platform perdagangan saham tertokenisasi — intinya, saham yang direpresentasikan sebagai token agar bisa diperdagangkan di rel digital, menjembatani dua dunia yang dulu terpisah. Platform itu masih menunggu persetujuan lewat skema pengecualian inovasi, dan belum ada tenggat waktu.

Pola ini sudah berjalan cukup lama: firma kripto berburu kredibilitas yang datang bersama pengajuan ke regulator dan tautan dengan bursa saham. Langkah OKX pas benar dengan pola itu.

## Bahkan pembeli Bitcoin paling setia pun melambat

Sinyal menarik lain datang dari Strategy, perusahaan yang membangun identitasnya di seputar penimbunan Bitcoin. Pekan lalu mereka berbelok: menghabiskan $176,3 juta untuk membeli kembali 1,77 juta saham preferen STRC, jauh melampaui $28,7 juta yang dipakai membeli 334 Bitcoin pada periode yang sama. Simpanan Bitcoin mereka hanya tumbuh 0,2% sepanjang kuartal ketiga — nyaris sekadar pembulatan dibanding laju sebelumnya.

Saham STRC sempat jatuh dalam sebelum merangkak kembali mendekati nilai parinya, sehingga membelinya kembali di sekitar nilai itu masuk akal dari sisi pengelolaan modal. Strategy juga mengajukan proxy untuk meminta restu pemegang saham membayar dividen harian atas STRC dan saham lain. Pemungutan suara dijadwalkan 28 Oktober, dan jika disetujui, dividen harian mulai mengalir pada November. Idenya tampak untuk memperbaiki likuiditas dan mungkin menaruh lantai di bawah harga saham — meski tidak ada yang menjaminnya.

## Latar makro masih berkabut

Bitcoin mencatat kuartal ketiga terbaiknya sejak 2017 dengan naik 43%, tapi sejak itu pasar bergerak tersendat. Salah satu penyebabnya nyata: imbal hasil obligasi pemerintah AS bertahan di atas 5%. Ketika aset yang relatif aman memberi sekitar 5% dan tidak anjlok 10% di akhir pekan yang buruk, aset berisiko seperti Bitcoin harus bersaing lebih keras menarik uang. Itu hambatan yang tidak bisa diabaikan.

Vanessa Grellet dari Arche Capital melihatnya berbeda. Menurutnya, daya tarik Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap pelemahan nilai mata uang tidak hilang hanya karena bunga sedang tinggi; argumennya, daya beli uang kertas terus tergerus terlepas dari apa pun yang dilakukan bank sentral.

Gambaran kebijakan sendiri bergeser. Data tenaga kerja September tergolong lemah, dengan hanya 29.000 lapangan kerja baru, dan itu mengubah ekspektasi suku bunga. Alat CME FedWatch bergerak menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober yang lebih rendah, sementara Presiden Fed New York John Williams juga memberi sinyal tidak ada dorongan segera untuk menaikkan lagi. Jadi suasananya mungkin sedikit lebih bersahabat bagi aset berisiko ketimbang sebulan lalu — tapi jauh dari pasti.

Untuk sekarang, pemungutan suara pemegang saham Strategy pada 28 Oktober adalah katalis konkret berikutnya yang layak dipantau. Arahnya tetap bergantung pada data, dan gambaran bisa berubah bila angka ketenagakerjaan, nada bank sentral, atau keputusan regulator bergeser dari perkiraan hari ini.

Siap ambil peluang market?

Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.

Trading Sekarang
Bagikan artikel ini

Bantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.