Indeks Cetak Rekor, Tapi Saham Malah Jadi Lebih Murah
S&P 500 terus mencetak rekor baru, tapi ukuran kemahalannya justru menurun. Rasio harga terhadap perkiraan laba, yang biasa disebut forward P/E, turun dari 20,4x ke sekitar 19,0x — kini berada di bawah rata-rata lima tahun maupun sepuluh tahun terakhir.
Sekilas ini terdengar aneh: harga naik, kok malah lebih murah? Kuncinya ada pada cara rasio ini dihitung. P/E membandingkan harga saham dengan laba yang diperkirakan dihasilkan perusahaan. Ketika perkiraan laba tumbuh lebih cepat daripada kenaikan harga, angka pembaginya membesar sehingga rasionya mengecil. Dengan kata lain, untuk setiap satu rupiah laba, investor sekarang membayar lebih sedikit dibanding sebelumnya — meski angka indeksnya sendiri sedang di puncak.
Mesin pertumbuhan laba itu banyak datang dari kelompok raksasa teknologi — Microsoft, Alphabet, Amazon, dan Meta — yang pendapatannya sama-sama tumbuh dua digit. Yang menarik, sebagian besar dari mereka justru diperdagangkan di sekitar atau bahkan di bawah valuasi historisnya sendiri.
Yang perlu diingat, perkiraan laba bukan angka mati. Ia bisa direvisi naik atau turun setiap kali perusahaan merilis hasil dan prospek terbaru. Kalau laba ke depan ternyata lebih lemah dari perkiraan, rasio yang sekarang terlihat murah bisa kembali terasa mahal — begitu juga sebaliknya bila labanya lebih kuat. Jadi valuasi yang berada di bawah rata-rata bukan jaminan soal ke mana harga akan bergerak; ia hanya menunjukkan di mana posisi harga saat ini dibanding laba, dan itu bisa berubah mengikuti data berikutnya.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
