Imbal Hasil Obligasi AS Mendekati 3%, Daya Tarik Saham Menyempit
Selisih antara keuntungan yang ditawarkan saham dan yang ditawarkan obligasi pemerintah AS sedang menyempit, dan itu mulai menekan pasar saham. Imbal hasil riil obligasi Treasury 10 tahun bergerak mendekati 3%, sementara S&P 500 secara perkiraan ke depan menawarkan imbal hasil laba sekitar 5,3%. Jarak keduanya yang dulu lebar kini menjadi lebih rapat, dan di situlah inti ceritanya.
Supaya mudah dibaca, dua angka ini perlu diterjemahkan. Imbal hasil laba adalah cara sederhana membandingkan seberapa banyak laba yang diperkirakan dihasilkan perusahaan dibanding harga sahamnya — angka 5,3% berarti, kira-kira, segitu imbalan yang diharapkan dari menaruh dana di saham. Sementara imbal hasil riil obligasi adalah bunga yang diterima pemegang obligasi setelah dikurangi perkiraan inflasi, jadi angka 3% itu sudah "bersih" dari gerusan harga.
Mekanismenya terletak pada pilihan. Ketika obligasi yang relatif aman membayar hampir sebanyak yang bisa diharapkan dari saham, alasan untuk menanggung risiko saham — yang harganya bisa naik-turun tajam — menjadi berkurang. Sebagian dana cenderung berpindah ke obligasi karena imbalannya sudah cukup menarik tanpa gejolak sebesar saham. Perpindahan itulah yang menambah tekanan pada harga saham. Begitu imbal hasil riil obligasi merangkak mendekati 3%, tekanan ke pasar saham berpotensi bertambah.
Kenaikan imbal hasil obligasi belakangan ini datang dari aksi jual di pasar obligasi. Pendorongnya adalah pertumbuhan nominal yang lebih tinggi, inflasi yang masih membandel, dan sikap bank sentral AS yang cenderung ketat. Pasar bahkan sudah memperhitungkan tiga kali kenaikan suku bunga masing-masing 25 basis poin hingga 2027, dengan satu kali diperkirakan terjadi pada Desember — ekspektasi yang ikut mendorong imbal hasil naik.
Yang membuat arahnya belum pasti, sebagian pelaku pasar justru menilai aksi jual obligasi ini sudah berlebihan, terutama pada obligasi bertenor pendek. Artinya gambaran ke depan sangat bergantung pada data inflasi dan langkah bank sentral berikutnya. Bila imbal hasil riil terus naik dan bertahan di dekat atau di atas 3%, selisih dengan saham makin tipis dan tekanan bisa berlanjut. Sebaliknya, kalau aksi jual obligasi mereda dan imbal hasil kembali turun, jaraknya bisa melebar lagi dan sebagian tekanan ke saham ikut berkurang. Dua kemungkinan itu sama-sama terbuka, dan datalah yang akan menentukan.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
