Hayes: Ketakutan soal AI Cuma 'Tembok' Terakhir Sebelum Reli Kripto Besar
Bitcoin bergerak tipis ke $82.944 (naik 0,43%) dan Ether ke $2.506 (naik 0,66%) ketika salah satu nama lama di industri kripto, Arthur Hayes, menyuarakan pandangan yang berlawanan dengan rasa cemas pasar: menurutnya kripto justru sedang berada di awal siklus naik yang besar, bukan di ujungnya. Hayes, yang kini mengepalai investasi di firma kripto Maelstrom dan ikut mendirikan bursa derivatif Bitmex, menuangkan argumennya lewat unggahan di X pada 8 Oktober.
Satu gagasan menjadi inti tulisannya: ketakutan terbaru — bahwa kecerdasan buatan suatu hari bisa membobol enkripsi yang melindungi kripto — hanyalah "tembok kekhawatiran" paling baru yang menurut Hayes selalu harus didaki pasar di awal setiap kenaikan besar. Ia menyebut kecemasan tahun ini sebagai FUD, istilah industri untuk rasa takut, ragu, dan tidak pasti. Untuk memperkuat poinnya, Hayes membandingkannya dengan tiga guncangan lama: perselisihan soal ukuran blok Bitcoin pada 2017 (soal seberapa banyak data transaksi yang boleh dimuat tiap blok), masa pandemi, dan masa setelah runtuhnya FTX di tengah bunga yang naik. Pesannya sederhana: setiap siklus punya cerita menakutkannya sendiri, dan pasar tetap melewatinya.
Tapi yang sebenarnya ia andalkan bukan cerita menakutkan itu, melainkan aliran uang. Dalam esainya pada 24 Agustus, Hayes berpendapat bahwa ketika uang dan kredit di sistem keuangan menjadi lebih longgar — ia menyebutnya likuiditas global — sebagian dana itu akan mencari imbal hasil dan mengalir ke aset spekulatif, termasuk kripto. Di sinilah mekanismenya: kalau ada lebih banyak uang beredar dan bunga ditekan, aset berisiko seperti bitcoin menjadi relatif lebih menarik, sehingga permintaan bisa terdorong. Hayes mengaitkannya dengan langkah Departemen Keuangan AS membeli kembali sebagian obligasinya yang beredar; operasi semacam itu bisa menggeser arah imbal hasil ke sisi yang bersahabat bagi aset berisiko, dan ia membedakannya dari pembelian aset oleh bank sentral. Ia merangkum keyakinannya dengan kalimat singkat di akhir unggahannya: uang akan dicetak, dan harga akan terangkat.
Hayes bahkan membalik skenario terburuk menjadi alasan optimis. Jika proyek infrastruktur AI yang dibiayai utang besar suatu saat mengalami tekanan keuangan — ia menaruh perkiraan itu sekitar 2027 atau 2028, saat komitmen pembangunan pusat data mulai jatuh tempo — ia menduga respons kebijakan berupa suntikan dana berskala triliunan dolar. Dalam logikanya, suntikan sebesar itu berarti lebih banyak uang baru, yang lagi-lagi bisa berujung pada kripto.
Yang penting dicatat, ini tetap sebuah skenario, bukan kejadian. Premis teknis di balik ketakutan yang ia sebut FUD pun ditolak sebagian ahli: kepala kriptografi di bursa Coinbase membantah adanya terobosan AI yang sudah di depan mata, dengan alasan tidak ada bukti bahwa asumsi kriptografi yang selama ini dipakai sudah jebol. Memang ada temuan — dibantu analisis AI — berupa celah pada sistem transaksi terlindung milik Zcash, tetapi itu cacat perangkat lunak yang sudah ditambal dalam hitungan hari, bukan runtuhnya perlindungan matematis yang mendasari tanda tangan digital. Dengan kata lain, dua sisi cerita ini belum tuntas.
Gerak harga hari ini yang hanya naik tipis tidak membenarkan maupun membantah tesis Hayes. Argumennya bertumpu pada kebijakan yang belum terjadi dan pada tenggat yang masih beberapa tahun ke depan, sehingga arah pasar tetap belum pasti dan sangat bergantung pada data likuiditas serta langkah kebijakan yang nyata. Yang bisa dilakukan pembaca bukan menebak akhirnya, melainkan mengikuti satu hal yang jadi kunci dalam kerangka Hayes sendiri: apakah uang dan kredit di sistem benar-benar mengalir lebih longgar, atau justru mengetat.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
