Harga Minyak Naik Menekan Ekonomi AS, Bunga Diperkirakan Tetap Naik
Kenaikan harga minyak dinilai sudah memukul cukup keras konsumen dan ekonomi Amerika Serikat, dan pada saat yang sama bank sentral diperkirakan tetap condong menaikkan suku bunga meski laju ekonomi sedang lesu. Itulah gambaran yang muncul dari penilaian seorang kepala ekonom di sebuah lembaga analisis terkemuka.
Satu benang merahnya sederhana: minyak yang mahal itu seperti pajak diam-diam bagi rumah tangga. Ketika harga bahan bakar naik, uang yang tadinya bisa dipakai belanja kebutuhan lain habis lebih dulu di pompa bensin. Belanja yang menyusut inilah yang membuat mesin ekonomi kehilangan tenaga, karena konsumsi rumah tangga adalah salah satu penggeraknya yang paling besar.
Yang membuat situasi ini terasa sulit adalah arah kebijakan bunga. Biasanya, kalau ekonomi melemah, bank sentral cenderung menahan atau menurunkan bunga agar aktivitas kembali bergairah. Tapi harga energi yang tinggi ikut mendorong harga-harga lain naik, dan tugas utama bank sentral adalah menjaga inflasi. Di sinilah muncul ketegangannya: ekonomi minta bunga lebih longgar, sementara tekanan harga menuntut bunga tetap ketat. Kombinasi itulah yang membuat konsumen dapat merasakan tekanan dari dua sisi sekaligus.
Arah ke depan masih bergantung pada data. Yang perlu diperhatikan adalah ke mana harga minyak bergerak selanjutnya dan bagaimana angka inflasi berkembang, karena keduanya yang akan menentukan seberapa besar ruang gerak bank sentral. Selama harga energi belum mereda, ruang untuk melonggarkan kebijakan cenderung menyempit.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
