Harga Minyak Melandai ke Arah $100 Saat Saudi Genjot Ekspor Lewat Hormuz
Harga minyak mentah bergerak turun mendekati $100 per barel setelah Arab Saudi meningkatkan ekspor minyaknya lewat Selat Hormuz. Intinya sederhana: ketika kekhawatiran soal pasokan mereda, tekanan yang sebelumnya mengangkat harga ikut mengendur.
Selat Hormuz adalah jalur laut sempit yang dilewati sebagian besar pengiriman minyak dunia. Kalau aliran lewat jalur ini terganggu, pembeli khawatir barang jadi langka dan berani membayar lebih mahal, sehingga harga terdorong naik. Sebaliknya, begitu Saudi menambah kiriman dan minyak mengalir lebih lancar, rasa cemas itu berkurang dan harga cenderung turun. Ditambah upaya diplomasi yang menenangkan situasi, pasar menilai risiko gangguan pasokan tidak segenting sebelumnya.
Meski begitu, gambaran ini belum sepenuhnya aman. Rencana Inggris memberi dukungan pertahanan kepada Saudi dalam menghadapi serangan Houthi menunjukkan ketegangan di kawasan belum benar-benar reda. Selama sumber ketegangan itu masih ada, satu insiden yang mengganggu aliran minyak bisa membalik arah harga dengan cepat. Itu sebabnya masih ada pihak, termasuk Goldman Sachs, yang mengingatkan kemungkinan harga terdorong hingga $120 bila keadaan memburuk.
Jadi yang sedang ditimbang pasar adalah dua kekuatan yang berlawanan: pasokan yang membaik menekan harga ke bawah, sementara risiko geopolitik yang belum hilang bisa mengangkatnya kembali. Yang layak diperhatikan pembaca adalah kabar seputar kelancaran pengiriman lewat Hormuz dan perkembangan ketegangan di kawasan, karena keduanyalah yang paling mungkin menggeser arah harga dari hari ke hari.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
