GBP/INR Kembali Tembus ₹127 saat Lonjakan Minyak Angkat Pound dan Tekan Rupee
Nilai tukar poundsterling Inggris terhadap rupee India kembali menembus ₹127 pada Senin, 28 September. GBP/INR bergerak di sekitar ₹127,19, naik dari titik terendah pagi di dekat ₹126,70 dan sempat mencapai kira-kira ₹127,40 sebelum melepas sebagian kenaikannya. Yang membuat pergerakan ini menarik: satu pemicu yang sama, yaitu lonjakan harga minyak dunia, justru menekan kedua mata uang ke arah yang berlawanan — dan perbedaan itulah yang mengangkat pasangan ini.
Harga minyak jenis Brent melonjak sekitar 2,5% ke atas US$107 per barel setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran yang bertujuan meredakan konflik dan membuka kembali Selat Hormuz. Kenaikan energi inilah titik tolak bagi kedua sisi pasangan GBP/INR, meski dampaknya berbeda.
Di Inggris, energi yang mahal menambah tekanan inflasi, dan pasar mulai memperkirakan Bank of England mungkin perlu kembali menaikkan suku bunga. Logikanya sederhana: ketika biaya energi mendorong harga-harga naik, bank sentral cenderung menaikkan bunga untuk meredamnya, dan bunga yang lebih tinggi membuat suatu mata uang lebih menarik untuk dipegang sehingga permintaannya bertambah. Pejabat bank sentral, termasuk Gubernur Andrew Bailey dan Deputi Gubernur Dave Ramsden, menyoroti risiko inflasi dari harga energi yang tinggi, dan pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 85% kenaikan bunga BoE pada November. Dukungan ini membantu poundsterling bangkit setelah September yang berat — walaupun secara bulanan mata uang itu masih menuju pelemahan sekitar 2% terhadap dolar AS, jadi kenaikan hari Senin lebih pas dibaca sebagai pemulihan, bukan pembalikan tren.
Di sisi lain, rupee India justru semakin rentan karena minyak yang sama. India mengimpor hampir 90% kebutuhan minyaknya, sehingga kenaikan harga energi langsung terasa: tagihan impor membengkak, tekanan inflasi bertambah, dan permintaan dolar dari para importir meningkat. Ketiga hal itu sama-sama menekan rupee, yang pada Senin melemah ke 95,9825 per dolar AS — level terlemahnya dalam lebih dari sepekan.
Pelemahan itu sebenarnya bisa lebih dalam. Bank sentral India (RBI) terpantau turun tangan lewat bank-bank milik negara saat rupee mendekati angka penting 96 per dolar, langkah yang membantu menahan penurunan lebih lanjut. Upaya menjaga rupee ini ada ongkosnya: cadangan devisa India tercatat turun sekitar US$15 miliar pada pekan yang berakhir 18 September. Di saat yang sama, harga minyak yang tinggi turut mendorong perkiraan bahwa RBI bisa menaikkan bunga pada Oktober — dan jika ekspektasi itu menguat, rupee justru berpeluang mendapat sedikit sokongan.
Arah selanjutnya belum pasti dan sangat bergantung pada data. Pertanyaan intinya adalah bank sentral mana yang bergerak lebih agresif: penguatan ekspektasi kenaikan bunga di Inggris bisa menopang pound, sementara intervensi RBI yang lebih kuat atau menguatnya ekspektasi kenaikan bunga India bisa membatasi kenaikan GBP/INR. Harga minyak akan tetap menjadi faktor penting bagi kedua sisi pasangan ini. Sebagai gambaran seberapa jauh pergerakan hari ini, dalam 30 hari terakhir GBP/INR berayun di kisaran sekitar ₹126,95 hingga ₹129,57, sehingga posisi Senin masih berada di bagian bawah rentang tersebut.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
