Gagal di Senat, RUU Kejelasan Aturan Kripto Berisiko Hidupkan Lagi Peran Perantara
Sebuah rancangan undang-undang yang dirancang untuk memperjelas aturan main industri kripto di Amerika Serikat gagal melaju di Senat setelah pemungutan suara berakhir tipis, 50 lawan 49. Kandasnya CLARITY Act ini menyalakan kekhawatiran bahwa perusahaan kripto justru akan kembali bersandar pada pihak perantara — kustodian dan sistem yang serba berizin — alih-alih bergerak ke arah yang lebih terbuka dan mandiri.
Logikanya sebenarnya sederhana. Selama belum jelas siapa yang berwenang mengawasi apa, perusahaan cenderung memilih jalan yang paling aman secara hukum. Menitipkan aset pada kustodian berlisensi atau memakai sistem yang aksesnya dibatasi dan dipantau membuat mereka lebih mudah menunjukkan bahwa mereka patuh. Masalahnya, cara itu berarti menghidupkan lagi peran perantara yang selama ini justru ingin dipangkas oleh kripto. Menurut CEO GenLayer Labs, Albert Castellana, di situlah letak risikonya: bukan aturan ketat yang mengekang, melainkan ketiadaan aturan yang mendorong industri berputar balik ke model lama.
Bagaimana kelanjutannya belum bisa dipastikan dan sangat bergantung pada langkah berikutnya di parlemen. Yang layak diperhatikan adalah apakah pembahasan aturan ini akan dihidupkan kembali atau tetap tersendat, serta bagaimana perusahaan menyikapi ketidakpastian ini dalam waktu dekat. Selama arah kebijakan belum terang, ruang untuk kembalinya para perantara tetap terbuka — dan itulah yang menjadi inti perhatian pelaku industri saat ini.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
