Fed Naikkan Bunga, Tapi Belum Mau Bilang Menang Lawan Inflasi | Labapro News
← Kembali ke News
Market Update

Fed Naikkan Bunga, Tapi Belum Mau Bilang Menang Lawan Inflasi

Bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve, atau Fed) menaikkan suku bunga acuannya pekan lalu — kenaikan pertama sejak 2023 — dan alih-alih menyatakan tugasnya selesai, salah satu pejabatnya justru menegaskan bahwa ini mungkin baru langkah pertama. Pesannya sederhana: inflasi belum ditaklukkan, dan Fed belum mau menepuk dada.

Presiden Fed wilayah Richmond, Tom Barkin, mengatakan alasan kenaikan itu lugas: "risiko dari inflasi lebih besar daripada risiko terhadap lapangan kerja maksimum. Itulah kenapa kami menaikkan bunga." Ia menyebut inflasi sebagai "si pembuat onar" yang sudah berada di atas target 2% selama lima tahun.

Kenapa menaikkan bunga bisa menekan inflasi? Ketika biaya pinjaman naik, meminjam uang jadi lebih mahal — baik bagi rumah tangga maupun perusahaan. Orang cenderung menahan belanja, bisnis menunda ekspansi, dan permintaan barang melambat. Ketika permintaan mengendur, penjual tak lagi leluasa menaikkan harga, sehingga tekanan harga perlahan ikut turun. Itulah alat utama yang sedang dipakai Fed.

Yang membuat cerita ini jujur adalah Barkin tidak berpura-pura tahu ke mana arahnya. "Ke mana dari sini? Kami berkomitmen mengembalikan inflasi ke target 2% secara berkelanjutan. Kenaikan pekan lalu akan membantu. Apakah perlu tambahan, dan berapa banyak? Kita lihat nanti," katanya. Ia terbuka pada dua kemungkinan. Inflasi bisa turun cepat jika guncangan harga mereda, konsumen mulai kehabisan daya beli, ledakan investasi melambat, atau pasar terkoreksi. Tapi inflasi juga bisa membandel: guncangan sementara berlarut-larut, muncul tekanan biaya baru, dan permintaan yang menguat kembali mendorong harga. Barkin menambahkan bahwa guncangan dari perang Iran dan gelombang pembangunan infrastruktur AI "tidak terbukti berumur pendek" dan butuh waktu untuk reda.

Di sisi pasar, sebagian besar pelaku memperkirakan setidaknya masih ada satu kenaikan lagi sebesar 25 basis poin sebelum tutup tahun. Alat CME FedWatch menunjukkan peluang 48,3% untuk satu kali kenaikan menuju kisaran 4% hingga 4,25% setelah pertemuan Oktober dan Desember, serta peluang 40,7% untuk dua kali kenaikan sebelum akhir tahun. Proyeksi ekonomi para pembuat kebijakan Fed sendiri mencerminkan satu kali kenaikan sebelum tahun berakhir, sementara Ketua Fed Kevin Warsh tetap tidak memberi panduan pasti soal langkah berikutnya.

Sejumlah pengamat ekonomi mengingatkan bahwa mengetatkan kebijakan bukan tanpa harga. Kenaikan bunga bisa menambah beban sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya pinjaman, sementara pengaruhnya terhadap lonjakan investasi di sektor AI dinilai terbatas — dengan salah satu risikonya adalah koreksi di pasar saham. Tujuan Fed jelas: kondisi keuangan yang lebih ketat untuk meredam permintaan dan menurunkan inflasi. Tapi jalannya tidak mulus di tengah biaya hidup yang tergerus dan bunga yang sudah tinggi.

Bagi pembaca, inti yang perlu dipegang bukan tebakan berapa kali bunga akan naik, melainkan bahwa Fed secara terbuka mengatakan arahnya bergantung pada data. Yang paling menentukan adalah angka inflasi yang keluar dalam beberapa bulan ke depan: bila tekanan harga mereda, alasan menaikkan bunga melemah; bila membandel, tekanan untuk terus mengetatkan tetap ada. Ketidakpastian itu sendiri adalah bagian dari kabarnya, bukan sekadar catatan kaki.

Siap ambil peluang market?

Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.

Trading Sekarang
Bagikan artikel ini

Bantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.