Dilarang di China, Transaksi Kripto Antarwarga Justru Tumbuh 3,5 Kali Lipat
Transaksi kripto langsung antarpengguna di China tumbuh sekitar 3,5 kali lipat dalam setahun terakhir, menurut sebuah studi dari firma analitik blockchain Chainalysis — lonjakan yang terjadi justru saat larangan kripto di negara itu diperketat.
Intinya satu hal: larangan menutup pintu depan, tapi tidak mematikan permintaannya. Ketika jalur kripto yang terpusat dibatasi ketat, orang tidak berhenti — mereka pindah ke cara yang lebih sulit dibatasi.
Cara itu disebut transaksi peer-to-peer, atau P2P: jual-beli langsung antarorang tanpa melewati bursa besar yang terpusat. Bedanya penting. Bursa terpusat ibarat satu loket besar — kalau ditutup, semua lalu lintas di situ berhenti. P2P adalah ribuan kesepakatan kecil langsung antarindividu, jadi tidak ada satu titik yang bisa dimatikan sekaligus. Begitu loket resmi ditutup rapat, aliran dagang berpindah ke jalur samping yang tersebar inilah — dan itulah yang menjelaskan kenapa angkanya justru melonjak, bukan menyusut.
Yang perlu dijaga kepalanya tetap dingin: data ini bicara soal seberapa banyak orang memakai kripto, bukan soal ke mana harganya akan bergerak. Pertumbuhan pemakaian dan arah harga adalah dua hal berbeda. Gambaran ini juga bisa berubah kalau pengawasan terhadap jalur P2P ikut diperketat atau aturannya kembali bergeser; sinyal paling jelas untuk itu biasanya datang dari langkah regulasi baru, bukan dari satu angka transaksi saja.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
