Deutsche Bank Siapkan Layanan Penyimpanan Kripto untuk Klien Institusi di Eropa
Deutsche Bank memutuskan masuk ke bisnis penyimpanan (custody) aset kripto untuk klien institusi dan korporasi di Eropa, dengan target layanan beroperasi pada akhir 2026 dan masih menunggu persetujuan regulator. Bank ini menyebut daftar aset yang sengaja dibuat pendek untuk tahap awal: bitcoin, ether, serta dua stablecoin yaitu USDC dan EURC. Yang membuat langkah ini menarik bukan ukuran daftarnya, melainkan siapa yang melakukannya — bank dengan aset mendekati $1,7 triliun yang dikenal tidak gegabah dalam hal apa pun.
Inti kabar ini sederhana: sebuah bank besar yang konservatif menilai kripto sudah cukup matang untuk masuk ke dalam portofolio jasanya. Untuk memahami kenapa itu penting, perlu jelas dulu apa arti "custody". Penyimpanan di sini berarti menjaga dan mengamankan aset kripto milik klien — mirip peran bank menyimpan uang atau surat berharga. Selama ini banyak manajer aset dan bendahara perusahaan ingin punya eksposur ke aset digital, tetapi terhalang satu syarat: pihak yang menyimpannya harus entitas yang diawasi regulator, bukan perusahaan kripto yang beroperasi di bawah pengawasan lebih longgar. Itulah tembok yang menahan mereka di pinggir lapangan. Ketika bank sekelas Deutsche Bank menawarkan penyimpanan yang teregulasi, tembok itu mulai turun.
Pilihan asetnya mencerminkan sikap hati-hati yang sama. Tidak ada memecoin, tidak ada token eksperimental — hanya aset yang relatif likuid, sudah dikenal luas, dan bisa dipertanggungjawabkan bank kepada regulator maupun klien. Bank juga menegaskan aset digital dipandang sebagai pelengkap keuangan tradisional, bukan penggantinya. Persiapannya pun tidak dadakan: pada 2025 bank ini sempat menjajaki kerja sama dengan Bitpanda, bursa kripto asal Austria, sebagai bagian dari pembangunan infrastruktur. Meski begitu, belum jelas apakah hubungan dengan Bitpanda itu masih berjalan atau sudah berubah bentuk — bank tidak merinci.
Deutsche Bank bukan yang pertama. Standard Chartered dan BBVA sudah lebih dulu menjalankan penyimpanan kripto teregulasi di Eropa. Justru di situ letak keuntungannya: karena bank lain sudah melewati proses perizinan serupa, jalur regulasinya relatif sudah terpetakan dan pengawas di Eropa punya pengalaman menilai skema semacam ini. Deutsche Bank bergabung ke kelompok kecil yang sedang tumbuh, bukan merintis dari nol.
Waktunya juga kontras dengan situasi di Amerika Serikat. Clarity Act — aturan yang seharusnya memberi kerangka regulasi kripto lebih jelas di AS — gagal lolos di Senat, dan dampaknya langsung terasa: dana senilai $450 juta ditarik dari ETF bitcoin AS setelah kegagalan itu. Lembaga seperti CFTC, IRS, dan SEC tetap pada posisi lama mereka, tanpa kerangka baru. Fokus Eropa pada Deutsche Bank sedikit banyak menghindari kegaduhan itu, karena kerangka penyimpanan di Eropa — meski jauh dari sempurna — sudah lebih jelas untuk dijadikan pijakan.
Yang masih terbuka justru bagian pentingnya. Persetujuan regulator belum keluar, sehingga bank belum boleh mulai beroperasi, dan tidak disebutkan regulator mana yang harus memberi izin atau berapa lama prosesnya. Artinya target akhir 2026 tetap bergantung pada keputusan yang belum ada di tangan bank. Sinyal yang layak diperhatikan pembaca adalah kabar keluarnya izin resmi dan kejelasan aset apa saja yang benar-benar dicakup saat peluncuran — sebelum itu, ini masih rencana dengan jendela waktu, bukan layanan yang sudah hidup. Yang sudah pasti hanyalah arahnya: bila bank sebesar ini masuk, pemain lain kemungkinan ikut atau mempercepat langkah, dan ruang penyimpanan kripto di Eropa akan makin ramai.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
