Bunga Naik, Saham Dividen Tertekan
Saham-saham berdividen tinggi di Amerika Serikat kompak melemah dalam sebulan terakhir, seiring melonjaknya suku bunga. Inti ceritanya sederhana: begitu imbal hasil dari aset yang dianggap "tanpa risiko" seperti obligasi pemerintah AS (Treasury) naik, daya tarik saham yang selama ini diburu karena dividennya ikut memudar.
Kenapa keduanya saling terkait? Investor yang mencari pendapatan rutin punya dua pilihan besar. Pertama, membeli saham perusahaan yang rajin membagi dividen. Kedua, menaruh dana di obligasi pemerintah yang membayar bunga dan risikonya jauh lebih kecil. Selama bunga obligasi rendah, saham dividen terlihat menarik karena imbalannya lebih besar. Tetapi ketika bunga obligasi naik, orang bisa mendapat imbal hasil lumayan tanpa perlu menanggung naik-turunnya harga saham. Sebagian dana pun berpindah, dan tekanan jual itulah yang menyeret harga saham dividen turun.
Salah satu cara paling gampang membaca kelompok saham ini adalah lewat iShares Select Dividend ETF, yang sering dipakai sebagai cerminan saham dividen AS. Ketika kelompok ini bergerak, ia memberi gambaran ke mana arah minat investor terhadap saham berbasis pendapatan.
Yang perlu diperhatikan ke depan adalah arah suku bunga itu sendiri. Selama bunga obligasi masih naik atau bertahan tinggi, tekanan pada saham dividen cenderung berlanjut. Sebaliknya, jika bunga mulai reda, sebagian daya tarik saham dividen bisa kembali. Arahnya belum pasti dan sangat bergantung pada data ke depan, jadi pergerakan bunga adalah hal pertama yang layak dipantau.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
