Bos Franklin Templeton Pertanyakan Cara Pesaing Menokenisasi Dana
CEO Franklin Templeton, Jenny Johnson, mengkritik cara sejumlah pesaing menokenisasi dana investasi dalam ajang TOKEN2049, dan menjadikan produk tokenisasi perusahaannya sendiri, BENJI, sebagai pembanding soal catatan di blockchain, imbal hasil, dan biaya.
Intinya satu: tidak semua yang disebut "dana tokenisasi" itu sama. Menokenisasi dana pada dasarnya berarti mengubah kepemilikan atas sebuah dana menjadi token digital yang tercatat di blockchain. Yang membuat catatan ini menarik adalah sifatnya yang terbuka — siapa pun bisa menelusuri rekam jejak transaksinya tanpa harus menunggu laporan berkala. Johnson menunjuk tiga hal yang menurutnya layak dibandingkan antarproduk: seberapa jernih catatan itu terlihat di blockchain, berapa imbal hasil yang benar-benar sampai ke pemegangnya, dan berapa biaya yang menyertainya.
Perlu diingat, ini adalah pandangan satu eksekutif di sebuah konferensi, bukan kesepakatan seluruh industri. Perdebatan soal standar tokenisasi dana masih berjalan, dan belum ada ukuran tunggal yang disepakati untuk membandingkan satu produk dengan produk lain. Buat pembaca, pelajaran yang bisa dibawa pulang sederhana: ketika menilai produk semacam ini, pertanyaan yang sama — seberapa transparan catatannya, berapa imbal hasilnya, dan berapa biayanya — bisa dipakai untuk menimbang klaim siapa pun, termasuk klaim dari pihak yang sedang bersaing.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
