Bos CFTC Soal Tanggung Jawab Saat AI Otonom Mulai Berdagang Kripto Sendiri | Labapro News
← Kembali ke News
Market Update

Bos CFTC Soal Tanggung Jawab Saat AI Otonom Mulai Berdagang Kripto Sendiri

Ketua Commodity Futures Trading Commission (CFTC) Michael S. Selig mempertanyakan siapa yang harus bertanggung jawab ketika perangkat lunak otonom—AI yang bisa menyimpan aset kripto dan mengeksekusi transaksi sendiri untuk penggunanya—mulai aktif di pasar. Ia menyampaikannya dalam sebuah forum di Washington pada 28 Oktober, dan intinya satu: aturan yang ada sekarang dibangun untuk manusia atau lembaga yang jelas identitasnya, sementara agen AI tidak selalu cocok dengan kerangka itu.

Selig menjelaskan bahwa pengawasan CFTC selama ini bertumpu pada pelaku pasar yang bisa diidentifikasi dan menjalankan fungsi keuangan tertentu. Persoalannya, agen otonom bisa memegang aset dan bertransaksi atas nama pengguna tanpa kehadiran langsung orang itu di setiap langkah. Ia memberi contoh yang terdengar nyeleneh tapi sengaja dipilih: kulkas yang melakukan staking Ether lalu memakai imbalannya untuk membayar belanjaan. Menurutnya skenario itu "bukan lagi fiksi ilmiah"—cara sederhana untuk menunjukkan bagaimana sebuah perangkat bisa menyimpan dan membelanjakan aset tanpa campur tangan manusia terus-menerus.

Dari situ muncul deretan pertanyaan yang ia akui belum punya jawaban. Apakah pengembang agen itu harus mendaftar? Siapa yang menanggung bila perangkat lunaknya "keluar jalur"? Bagaimana regulator tahu atas nama siapa sebuah agen—atau sekelompok agen—sebenarnya berdagang? Ia bahkan melempar gagasan apakah perlu versi baru dari aturan kenali-nasabahmu (know-your-customer), semacam "know-your-agent". Semua itu ia sampaikan sebagai pertanyaan, bukan kesimpulan.

Selig tidak sedang menolak teknologinya. Ia menyebut AI bisa membuka akses alat manajemen risiko—yang dulu identik dengan institusi besar—bagi pedagang dan usaha kecil. Ia menggambarkan jangkauannya sebanding dengan mesin cetak, mesin uap, dan internet, serta mengutip Presiden Donald Trump yang menyebutnya "super intelligence". Tapi ada sisi lain: agen bisa bereaksi tak terduga terhadap kondisi pasar, dan banyak sistem yang memakai model serupa berpotensi bergerak serempak ke arah yang sama. Kecepatannya pun bisa menyulitkan pengawasan pasar dan pengelolaan risiko.

Yang membuat pertanyaan ini mendesak, bukan sekadar teoretis, adalah pasar sudah bergerak lebih dulu. Coinbase meluncurkan Agentic Wallets pada Februari dengan batas pengeluaran dan perdagangan yang ditentukan oleh pengguna, sementara Binance memperkenalkan AI Agent Skills pada Maret yang menyediakan data pasar serta alat untuk memasang dan mengelola order spot.

Untuk sekarang yang ada baru pertanyaan, bukan aturan baru. Yang perlu diperhatikan ke depan adalah apakah regulator mulai menerjemahkan pertanyaan-pertanyaan ini menjadi kewajiban konkret—soal pendaftaran, tanggung jawab, atau identifikasi agen—karena arah kebijakan itulah yang akan menentukan bagaimana alat berbasis AI boleh dipakai di pasar kripto. Selama belum ada kepastian, siapa pun yang memakai alat semacam ini sebaiknya betul-betul memahami batas dan risikonya sendiri.

Siap ambil peluang market?

Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.

Trading Sekarang
Bagikan artikel ini

Bantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.