Binance Kembali Disorot Soal Nasabah dan Aliran Dana Terkait Iran
Seorang nasabah Binance yang terhubung ke jaringan keuangan Iran menjadi sasaran penyelidikan penegak hukum Amerika Serikat dan Swiss, setelah tercatat bertransaksi dengan seorang penukar uang (money changer) Iran dan berulang kali mengakses akunnya dari Tehran. Bagi pasar kripto, satu hal yang perlu dibaca dari kabar ini sederhana: tekanan pengawasan terhadap bursa besar belum reda, dan itu menyangkut soal uang siapa yang boleh lewat dan siapa yang tidak.
Yang membuat kasus ini menarik adalah status nasabah tersebut. Binance menggolongkannya sebagai "high-value customer" — nasabah bernilai tinggi yang mendapat biaya lebih murah dan layanan khusus. Status itu punya efek samping: untuk menutup akunnya diperlukan persetujuan dari level senior lebih dulu. Di sinilah letak ketegangan yang perlu dipahami pembaca. Bursa punya dorongan bisnis untuk merawat nasabah besar, sementara aturan anti pencucian uang dan sanksi menuntut akun berisiko ditutup cepat. Ketika dua kepentingan itu tarik-menarik, penutupan bisa tertunda — dan penundaan itulah yang biasanya jadi perhatian pengawas. Binance menyatakan telah memblokir akun-akun terkait pada akhir 2025 dan menutup akun terakhir pada Mei 2026.
Nasabah itu disebut terhubung dengan perusahaan kripto yang dijalankan pemodal Iran, Babak Zanjani, yang masuk daftar sanksi Departemen Keuangan AS. Masuk daftar sanksi artinya pihak di yurisdiksi AS pada dasarnya dilarang berurusan dengannya; itu sebabnya satu nama bisa menyeret seluruh rantai transaksi ke ranah hukum. Meski begitu, banyak yang masih belum jelas: siapa persisnya nasabah itu, berapa nilai transaksinya, dan apakah penyelidikan berujung pada dakwaan — semuanya belum terjawab.
Terpisah dari kasus itu, Departemen Kehakiman AS menuding dua pihak, Blessed Trust dan Hexa Whale, memakai akun Binance untuk mencuci lebih dari 1,5 miliar dolar AS hasil penjualan minyak Iran, dan kini menuntut penyitaan kripto senilai sekitar 61 juta dolar. Binance sendiri menyebut hasil investigasinya menemukan paling banyak 126,1 juta dolar sampai ke dompet (wallet) terkait Iran, termasuk hingga 24,1 juta dolar yang dikaitkan dengan dompet milik Korps Garda Revolusi Islam Iran. Angka-angka dari dua pihak ini jelas berbeda jauh, dan selisih itu sendiri adalah bagian dari cerita — menunjukkan bahwa besaran yang sebenarnya masih diperdebatkan.
Semua ini bukan babak pertama. Pada 2023 Binance mengaku bersalah atas pelanggaran aturan anti pencucian uang dan sanksi AS, serta setuju membayar sekitar 4,3 miliar dolar. Rentetan ini penting bagi pengguna ritel bukan karena memberi arah harga, melainkan karena menunjukkan bahwa risiko regulasi adalah faktor yang hidup dan bisa muncul lagi. Yang layak diperhatikan ke depan adalah apakah penyelidikan ini berkembang menjadi dakwaan baru atau tindakan penegak hukum tambahan; kabar seperti itu, kalau muncul, biasanya yang menggerakkan sentimen. Arahnya tetap tidak pasti dan bergantung pada perkembangan, jadi kabar ini lebih tepat dibaca sebagai konteks untuk memahami risiko, bukan sebagai sinyal.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
