82 Proyek Kripto Tutup Tahun Ini, Modal Besar Ternyata Bukan Jaminan
Sebuah daftar yang dirilis bulan Oktober mencatat 82 proyek kripto berhenti beroperasi sepanjang 2026, menyebar di bidang keuangan terdesentralisasi (DeFi), infrastruktur, dan gaming. Satu hal menonjol dari rentetan penutupan ini: mengumpulkan uang dalam jumlah besar ternyata bukan jaminan sebuah proyek bisa terus hidup.
Gambaran itu paling jelas terlihat pada hitungan terpisah di bulan Agustus, yang mencatat 100 pengumuman penghentian — termasuk proyek yang menutup diri secara terencana maupun yang beralih ke produk lain. Dua angka ini memakai kriteria berbeda, jadi 100 di Agustus dan 82 di Oktober tidak bisa dibaca sebagai naik-turun jumlah penutupan dari bulan ke bulan. Keduanya sekadar potret dari sudut yang berbeda.
Yang menarik dari kelompok Agustus: proyek-proyek di dalamnya secara total pernah mengumpulkan sekitar $1 miliar dan sepanjang hidupnya menghasilkan $250 juta dari biaya layanan. Sembilan di antaranya bahkan masing-masing menghimpun lebih dari $50 juta. Toh mereka tetap tutup. Alasan yang paling sering muncul bukan soal kehabisan uang semata, melainkan tidak ketemunya produk dengan pasar — istilah untuk kondisi ketika sebuah produk gagal menarik cukup banyak pengguna yang benar-benar membutuhkannya. Di situlah logikanya: tanpa pemakai yang nyata, pemasukan tak jalan, dan dana sebesar apa pun pada akhirnya habis terpakai. Alasan lain yang disebut adalah dana menipis, pendapatan tak memadai, dan proyek yang berpindah arah. Catatan ini menggambarkan kelompok Agustus, bukan setiap proyek dalam daftar Oktober.
Nama-nama yang berhenti punya latar yang beragam. Blast, sebuah jaringan lapis-kedua Ethereum yang sempat menarik lebih dari $2 miliar simpanan, pada Oktober mengumumkan akan menutup diri setelah menyimpulkan tidak ada jalan ekonomi yang masuk akal untuk diteruskan. Step Finance mengumumkan penutupan pada Februari setelah kas besarnya dibobol. Radiant Capital menyatakan pada Juni akan menghentikan operasi karena tak kunjung pulih dari serangan di 2024. Satori Finance, yang didukung Coinbase, berhenti setelah pendapatannya tak lagi cukup menopang bisnis. Benang merahnya bukan satu sebab tunggal, melainkan campuran masalah bisnis dan keamanan.
Latarnya pun tidak mudah. Bitcoin, yang biasa jadi penentu suasana pasar kripto, sempat mencetak rekor di atas $126.000 pada Oktober 2025, lalu jatuh ke bawah $60.000 awal tahun ini. Ketika harga aset utama turun sejauh itu, selera modal mengecil dan proyek yang tadinya rapuh jadi makin sulit bertahan.
Yang agak di luar dugaan, aliran investasi justru tidak berhenti di tengah gelombang penutupan ini. Pendanaan modal ventura kripto pada paruh pertama 2026 naik dibanding periode yang sama 2025 — tetapi jumlah kesepakatannya anjlok 80%. Artinya uang mengalir ke lebih sedikit proyek dengan porsi yang lebih besar per proyek, bukan tersebar merata seperti dulu. Sementara itu, aksi penggabungan dan akuisisi sudah mencapai 87 transaksi sepanjang tahun menurut hitungan Agustus, 65% lebih banyak dibanding sepanjang 2025. Pasar sedang menyeleksi: yang lemah ditutup, yang dinilai kuat justru diperebutkan.
Bagi pembaca ritel, pelajaran yang bisa dibawa sederhana. Besarnya dana yang pernah dihimpun sebuah proyek bukan ukuran apakah ia akan bertahan; yang lebih menentukan adalah apakah ada cukup orang yang benar-benar memakainya dan apakah pemasukannya bisa menutup biaya. Arah pasar ke depan tetap tidak pasti dan sangat bergantung pada kondisi harga aset utama serta seberapa selektif modal mengalir.
Install aplikasi Labapro dan mulai trading dari satu platform multi-asset.
Trading SekarangBantu trader lain membaca update market Labapro. Preview share memakai title, image, dan description artikel ini.
